Kadek’s Day…!

March 29th, 2007 by karyaque

Siang ini kuputuskan untuk menikmati kesendirian, setelah benakku kembali terusik dengan bayangannya yang hadir semalam. Kulihat dalam agendaku tidak tercantum hal apapun yang harus kukerjakan hari ini, jadi tidak ada salahnya jika hari ini kudeklarasikan sebagai hari menjomblo sedunia. Bukan, mungkin lebih pas jika hari ini disebut sebagai hari Kadek sedunia. Tidak harus dirayakan setahun sekali, satu semester sekali, atau satu bulan sekali. Cukup ketika aku merasa ingin membunuh rasa penatku atas segala hal yang membuatku jengah.

Oya, perkenalkan, namaku Kadek Krishna Perbhawa. Cukup panggil aku Kadek. Bukan, jika kamu mengira aku seorang peranakan Bali, kamu jelas-jelas salah besar. Lihat saja wajahku yang kata orang malah lebih condong bertipe Arab, India, atau sejenisnya, yang jauh tidak mirip dengan galur murniku yang beretnis Jawa. Namaku hanya produk fanatisme seorang penyumbang gen Y dalam tubuhku yang sangat tertarik dengan budaya Bali. Aku seorang laki-laki berkacamata berumur 20an dengan style rambut yang tak pernah berubah. Yah, tak lain hanya karena kebotakan dini yang kualami—fenotip yang muncul dari gen Y yang terlalu dominan. Menikmati kesendirian bisa jadi merupakan salah satu hal favoritku, seperti siang ini.

Entah tujuan awalku tadi kemana, yang jelas motorku saat ini sudah terparkir di basement plaza megah di kotaku. Dari area parkir tercium aroma roti panggang dengan filling mocca yang terkenal itu. Tak perlu kusebutkan namanya, tentu kau sudah tau. Cukup menggoda. Cukup untuk membuat perutku semakin memberontak. Jika memang takdir membuatku merelakan beberapa ribu rupiah untuk menentengnya pulang, kenapa tidak? Tapi aku hanya mengikuti kemana kakiku melangkah.

Kakiku terus melangkah, membawaku menapaki lantai demi lantai plaza itu. Tak sengaja kulihat beberapa orang memperhatikanku sekilas, atau bahkan beberapa kilas. Ada yang salah denganku? Rasanya tidak. Kaos hitam dengan logo sponsor yang lumayan besar di bagian punggung dan lengan kiri yang kupakai ini tidak memalukan. Hanya kutambah aksen rapi—kumasukkan ke dalam celana jeans. Ditambah selop yang tampak seperti sepatu dan tas selempang hitam. Itu saja. Atau, karena jerawat matang yang siap meletus di ujung hidungku, yang membuat mereka melihat suatu hal yang aneh? Tampaknya tak perlu kupikirkan. Aku hanya berjalan dan terus berjalan. Apa yang mereka pikirkan toh sama sekali bukan urusanku.

Tidak terasa aku sampai di sebuah restoran yang dihiasi lampu warna ungu—yang bahkan sama sekali tidak masuk nominasi sebagai warna favoritku—di lantai paling atas. Tidak begitu ramai. Hanya ada empat kelompok pengunjung di sana. Seperti telah kupesan sebelumnya, tempat duduk di pojok belakang resto itu kosong. Menungguku menjamahnya.

Cukup lama kutahan rasa lapar yang mulai menyerang sampai akhirnya salah satu pramusaji menghampiriku. Tak banyak basa-basi, kupilih Mie Goreng Seafood dan es teh manis dengan sedikit gula dan es. Sudah lama rasanya makanan enak berlemak tidak menggumuli lidah, kerongkongan, dan lambungku.

Sembari menunggu pesananku datang, kukeluarkan buku tebal yang baru saja kubeli dari sebuah toko buku diskon, dan mulai membacanya. Tampaknya menarik. Sebuah kisah tragis tentang seorang anak laki-laki yang dibesarkan sebagai perempuan. Demikian kalimat yang terpampang di halaman depan buku bersampul putih itu. Memang menarik.

Entah sudah berapa lama aku terlarut dalam kegiatan yang membuat seluruh inderaku bekerja ini, ketika aku mulai terganggu oleh seorang cewek yang bersikap manja terhadap pasangannya di seberang sana. Dan seperti kuduga, sang pangeran membalasnya dengan bualan manis nan gombal yang membuat sang putri luluh. Sesaat, pasangan itu kembali bercengkerama dengan volume super kecil, seakan-akan ada rahasia besar yang mereka simpan.

Sampai pada halaman 48 ternyata sang pangeran telah membawa sang putri berkelana dengan kuda putihnya. Kulihat ada sekelompok model dari sebuah agency ternama di kota ini menggantikan singgasana sang pangeran. Serba gaul. Itu yang kutangkap dari mereka. Pakaian. Asesoris. Rambut. Sangat jauh dibandingkan aku yang sangat biasa ini. Tak sengaja kudengar percakapan mereka ketika aku kembali terusik dengan gelak tawa dan asap rokok mereka. Foto. Poster. Backdrop. Entah apa yang mereka bicarakan. Aku terlalu asyik membaca buku ketiga yang kubeli minggu ini.

Ketika semakin banyak orang yang datang, kuputuskan meninggalkan restoran itu. Kulirik jam tangan yang melingkar di tangan kiriku. Hmm, masih ada waktu. Kembali kuikuti kemana kakiku melangkah—yang tampaknya akan membawaku ke musholla. Yah, ada baiknya meninggalkan sejenak urusan duniawiku demi melaksanakan kewajibanku sebagai seorang muslim.

Cukup panjang perjalananku menuju musholla kecil yang disediakan plaza ini. Cukup lama waktuku untuk bercanda dan berbicara dengan diriku sendiri, seakan ada kepribadian ganda di dalamnya. Lantunan musik jazz kudengar jelas di tiap lantai. Tiba-tiba saja aku teringat film "Mimpi dan Rumah Ketujuh. Aku ingat saking sukanya terhadap film ini, aku sempat merelakan uang sakuku untuk membeli buku skenarionya. Lumayan bisa menjadi panduan bagiku untuk mencoba menulis skenario film indie. Dan entah kenapa, saat ini aku merasa menjadi bagian dari film itu. Entah pemeran utama, pemeran pembantu, atau mungkin hanya cukup pantas untuk sekedar menjadi figuran yang numpang lewat saja.

Lamunanku menguap begitu saja ketika kudapati aku mulai memasuki areal parkir yang cukup gelap, panas, bahkan pengap. Tampaknya adzan Maghrib belum berkumandang, sehingga kuputuskan untuk mencuci mukaku sejenak dengan sabun muka yang selalu tersedia di tas. Aku hanya ingin tampak lebih segar dengan wajah tak berminyak dalam sesi terakhir petualanganku hari ini. Tak banyak waktu yang kuhabiskan di musholla, dan saat ini aku telah siap terjun ke dalam sesi terakhir petualanganku hari ini—seperti yang telah kusebutkan sebelumnya, belanja.

Begitulah akhir dari setiap hari tertentu yang kusebut sebagai Hari Kadek Sedunia. Tak perlu kuceritakan tentang detail gila belanjaku. Lihat saja apa yang kubawa dalam kantong belanjaanku. Satu pak permen rasa buah. Satu ons jamur goreng tepung. Satu potong pizza bertabur daging dan sosis. Satu botol minuman yang—kata iklannya—dapat memulihkan konsentrasi. Satu kotak kopi instan dengan campuran rasa coklat dan jeruk yang menggoda. Dan tak lupa, beberapa bungkus makanan ringan bersodium tinggi. Yummy…!

by: KIP! - 28 Mar’07

Cerita Malam…

March 29th, 2007 by karyaque

Malam ini lagi-lagi aku diam sendiri di kamar,, hanya ditemani lantunan musik dari komputer. Sepi, tapi aku suka. Sunyi, tapi menarik. Paling tidak, buat aku, seorang yang tertutup, memang menjadi pilihan yang terbaik.

Hh,,, siang tadi banyak pikiran berkecamuk di benakku. Kuliah. Rencana penelitianku. Belum lagi laboran lab yang membuatku menunggu hampir 2 jam. "Fantastis, baru jadi laboran aja sudah melanglang buana ke negri antah berantah. Sulit ditemui…" pikirku. Yah, walau pada akhirnya dapat kutemui laboran lain, tapi rasa gondok masih terbenam di hatiku. Ingin rasanya aku mengumpat. Tapi…, bukankah aku tak biasa mengumpat…?

Ah, entahlah… memang hari ini banyak kejadian yang membuatku kecewa, tapi sudahlah. Yang jelas saat ini aku di sini lagi, di kamar ku yang kecil, di mana barang-barang berserak di mana-mana, walau sudah kucoba membereskannya. Baju kotor di lantai. Tas di tempat tidur. Gelas kotor di atas lemari. Botol minum di atas CPU. Celana-celana bekas pakai tergantung di mana-mana. Sarung terburai di samping sajadahnya. Dus pembungkus headset yang baru kubeli terserak di mana-mana. Yah, beginilah… beginilah suasana kamaku yang berukuran 2 x 3 meter ini.

Ah, kenapa kupikirkan hal-hal itu. Toh semuanya sudah menjadi bagian dari kebiasaan ku, bagian dari hidupku. Mau tak mau aku harus bisa menerimanya. Entahlah, akhir-akhir ini aku lumayan betah di rumahku. Tak seperti biasanya, saat rumahku menjadi sebuah wisma tempatku menginap (karena memang tak layak rasanya bila dibilang sebagai hotel kelas melati sekalipun).Pergi pagi, pulang malam. Mandi. Pergi. Pulang malam. Cuci muka. Tidur. Pagi lagi. Mandi. Pergi. Pulang malam. Cuci muka. Tidur. Begitu seterusnya.

Sialan, lagu yang kudengarkan ini semakin lama semakin membosankan. Di shuffle ataupun enggak sama saja. Tak ada yang terlalu menarik buatku. Hanya lagu-lagu awal tadi yang paling tidak membuatku ikut berdendang, walaupun dengan suaraku yang seadanya. Yaks, lagu-lagu mello ini semakin membuaku muak. Apalagi sebenarnya suara mereka STD banget, modal tampang! Begitulah, kecenderungan sekarang orang jual tampang, bukan kemampuan. Lihat saja di tivi ataupun di manapun orang-orang terkenal itu berada. Terkenal karbitan. Besok lusa paling juga sudah hilang ketenarannya. Hei, buat apa aku ngurusi mereka! Toh aku juga nggak tenar.

Yah, tak banyak yang bisa kulakukan sekarang. Menikmati kesendirian ternyata membuatku jengah dengan semua rutinitas yang ada. Apapun itu. Walau mungkin saat pertanyaan itu dilontarkan padaku, "apa aku ada rencana baru untuk mengubahnya?", jawabannya masih tetap sama, tidak. Aku ingin sesuatu yang baru. Hal yang membuatku bergairah. Tapi apa yang bisa kulakukan sekarang? Sama sekali tak terlintas di benakku untuk mencari hal itu. "Paling suatu saat juga akan kutemukan dengan sendirinya," pikirku, "atau mungkin mereka yang menghampiriku". Siapa tau bukan?

Ah, buat apa aku terlalu memusingkan semua hal itu…?! Lebih baik segera kuistirahatkan ragaku, walau entah kemana jiwaku akan berkelana malam ini. Ke bulan mungkin. Atau ke masa lalu saja. Atau… ada ide lain? Ah, biarlah alam bawah sadarku yang menentukannya. Toh kemanapun jiwaku pergi malam ini, kuharap esok dia akan kembali mengisi ragaku.

Ssstt… kau dengar detak jarum jam itu?

by: KIP! – 29 Maret 2K6

Dan Sumanti Pun Tersenyum…

March 29th, 2007 by karyaque

Payah!!! Berita petang ini terus saja mengekspos seseorang, yang sebenarnya bukan aktor atau penyanyi ataupun wakil rakyat di dewan sana. Orang itu terus saja diberitakan di berbagai media massa akhir-akhir ini. Gila, hanya karena satu tindakan yang dilakukannya, dalam sekejap ia menjadi seorang yang terkenal bak seorang superstar.

Su… Man… To. Kira-kira nama itulah yang melekat pada diri selebritis dadakan itu. Memang, hanya karena ia menyantap mayat seorang nini keriputan berumur 80-an, ia jadi terkenal dan diperbincangkan tanpa henti di segala penjuru negara ini. Hh… betapa mudahnya menjadi seorang yang terkenal. Bedanya, lelaki yang dicantoli label ‘Sumanto’ ini bukan menginap di istana super mewah yang berfasilitas super wah, tapi ia menghabiskan siang malamnya di bui.

Kehadiran lelaki kanibal itu di kancah kepopuleran orang Indonesia, memberi dampak pada berbagai lapisan masyarakat. Satu di antara mereka yang kebagian jatah untuk ikut berbagi kepopuleran Sumanto adalah seorang cewek bernama Anti.

Sama halnya dengan Sumanto, Anti pun bisa dibilang kondang di sekolahnya dalam jangka waktu tak lama setelah populernya Sumanto. Dampaknya, Anti kewalahan menerima terpaan celotehan teman-temannya yang selalu mampir di kedua daun telinganya. "Anti… daging-e endi?". "Anti… enak ra daging-e mbok Rinah?". "Anti… bubur uwong-e dibumboni apa?". Paling tidak, suara-suara sumbang itu terus saja bergema di indera pendengar Anti.

Cewek keturunan Jawa asli ini hanya bisa diam saat teman-temannya melontarkan predikat barunya. Ia pun kini lebih minder lagi saat berjalan di depan teman-temannya. Ingin rasanya ia menutup rapat-rapat telinganya saat celotehan itu dialamatkan kepadanya. Tapi, apa yang bisa dilakukannya kini hanyalah diam, diam, dan diam. Ketidakberdayaannya itu membuatnya semakin terpuruk.

Hal itu membuat ‘pede’ yang baru ia coba untuk bangkitkan, kembali down seperti semula. Bahkan, ia sering sengaja untuk terlambat datang ke sekolah hanya untuk menghindar dari teman-temannya.

"Ti, kamu nggak papa?" tanya Tera, teman sebangku Anti. "Kulihat dari tadi kamu nggak konsen ke pelajaran".

"Ah, nggak papa kok!" jawab Anti singkat. Ia memang tergolong orang yang tertutup, bahkan pada sahabatnya sekalipun. Ia lebih memilih untuk memendam sendiri masalahnya dan mencoba mencari sendiri penyelesaiannya, walaupun itu belum layak untuk dikatakan sebagai sebuah solusi yang baik.

"Bener nggak papa? Tapi kamu kelihatan ‘bete’ banget! Kalo’ ada masalah, cerita dong! Apa gunanya aku jadi sahabatmu, kalo’ aku nggak bisa bantu kamu memecahkan problemmu?" tanya Tera, panggilan akrab Teratai, kembali.

"Bener, Ra, aku nggak papa. Percaya deh!" tangkis Anti. Ia benar-benar keras kepala dalam mempertahankan sikapnya.

"Ya udah, kalo’ nggak papa. Yang jelas, kalo’ kamu ada masalah, aku siap mendengarkan kok! OK!" kata Tera meyakinkan. "Ke kantin, yuk! Laper nih! Atau kamu mau titip makanan?".

"Makasih, aku baru puasa," tolak Anti.

"Doo, yang pake’ jilbab. Puasa sunnat ya? Ya udah deh, ‘met puasa ya!" kata Tera sambil meninggalkan Anti yang kini tenggelam dalam riuh rendah keramaian teman-teman sekelasnya.

Bagaikan sebuah pulau kecil di samudera Atlantik, ia merasa sangat terasing di kelasnya. Walaupun sebenarnya, teman cewek itu juga masih menganggap Anti layaknya teman biasa.

Di tengah kesendirian batinnya itu, Anti segera mengeluarkan secarik kertas dari tas punggungnya. Ditulisnya beberapa kalimat dengan tinta merah, tinta yang menjadi simbol kemarahan, ketegasan, ataupun kepanikan. Selesai ia menulis, segera ia lipat dan ia masukkan ke dalam laci. Kemudian, ia coba hilangkan prasangka buruk tentang teman-teman yang menyebutnya "Kaki tangan Sumanto si Lelaki Kanibal", dengan membaca lamat-lamat Al-Qur’an kecil yang selalu dibawanya ke sekolah.

Lama ia membaca firman Allah itu di pojok belakang kelasnya. Tak ada satupun teman yang menemaninya, karena mereka telah tersibukkan oleh kesenangan mereka masing-masing. Paling tidak, empat gap terbentuk di kelasnya, yang mana tak satupun mencantumkan nama Anti sebagai bagian dari kelompok mereka. Memang, hanya Tera lah yang paling dekat dengannya, walaupun Tera agak lebih sering berkumpul dengan teman lainnya.

Pelajaran demi pelajaran di jam berikutnya Anti lalui dengan banyak melamun. Hal itu tampak jelas pada air mukanya. Matanya begitu redup. Bibirnya manyun. Jilbabnya terlihat kusut. Dan yang jelas, tak ada secuilpun senyum yang menghiasi muka ovalnya. Rupanya, kemurungan telah bertahta di wajahnya. Kemurungan telah menguasai setiap detil wajah jawanya.

Anti benar-benar mengabaikan apa yang diucapkan guru-gurunya kali ini. Sisa dua jam pelajaran terakhirnya ia habiskan dengan membaca sebuah buku yang belum pernah ia baca sebelumnya, "Balasan Kepada Orang-orang yang Tabah dan Sabar". Buku yang dipinjamnya dari perpustakaan rohis di sekolahnya itu ia baca lekat-lekat setiap halamannya. Nampaknya ia tak ingin ketinggalan sepatah katapun. Ia terus membaca dan membaca, sampai bel tanda pulang sekolah berdendang dengan merdunya.

Dasar hari itu adalah hari Sabtu, maka begitu selesai berdoa hampir semua siswa sekolah yang telah didiami Anti dua tahun lebih itu langsung pulang. Termasuk Anti. Ia ingin menghabiskan beberapa lembar terakhir buku yang dibacanya tadi.

Teman-temannya yang masih saja sirik itu terus saja memanggil-manggil dan menggoda Anti. Ia percepat langkahnya. Ia ingin segera pulang dan berhenti mendengar julukan-julukan itu disandangkan pada namanya. Sekeluarnya dari gerbang sekolah ia segera menyeberang jalan. Ketika jalan telah dipikirnya sepi, tiba-tiba seorang jambret dengan motor RX-King nya melaju dengan kecepatan tinggi dari arah kirinya.

***

"Sumanti binti Subekti"

lahir: 12 Mei 1985

wafat: 31 Januari 2003

Setidaknya, itulah yang terbaca dari papan kayu kecil yang tertancap di sebuah gundukan tanah yang masih basah itu. Di atas tanah itu, tersebar cuilan-cuilan mahkota bunga merah dan putih. Di sekeliling gundukan basah itu, beberapa teman Anti masih tertunduk. Termasuk Tera.

Tangan Tera tampak menggenggam secarik kertas putih. Kertas putih terlipat yang ditemukannya di laci Anti. Ia buka kembali lipatan kertas itu, dan ia baca untuk kesekian kalinya.

"Ya Allah, apa yang terjadi pada saya? Mengapa mereka mengejek saya seperti itu. Saya tahu, saya hanya anak seorang miskin yang hidupnya bergantung pada sebuah becak tua. Tapi, saya tetap manusia. Saya mempunyai hak yang sama dengan mereka.".

Ya Allah, berikanlah saya kekuatan untuk menghadapi ini semua. Atau kalau Engkau menganggap saya kurang mampu untuk menghadapinya, berikanlah yang terbaik bagi saya. Saya percaya, Engkau pasti mengabulkan permohonan saya ini. Amien…

Untuk kesekian kalinya pula, Tera mengangis setelah membaca tulisan tangan Anti yang terakhir. Sekali lagi, Tera menangis di depan peristirahatan terakhir bagi Anti di dunia ini. Namun, di lubuk hati kecilnya, Tera yakin bahwa Anti akan bahagia di alam baka sana. Anti tak perlu lagi mendengar ejekan ataupun celotehan tentang namanya yang identik dengan si Lelaki Kanibal. Dan, Sumanti pun tersenyum…

By : KIP! – 31 Jan 2K3